Saturday, March 1, 2014

CINTA


Pagi ini, cintaku bertabur diantara sian dan nila
dalam spektrum romantis yang tak terhitung nisbahnya.
Mereka indah karena ada kau, cinta.

RUNTUH



Aku begitu runtuh
Seperti duduk diantara pusaran air
Tidak satupun yang menggulungku masuk
hanya terpental, lalu kembali dan terpental ditempat yang berdekatan
Andai berdiri.. takkan sempurna pijakanku
hanya ada dua pilihan yang terombang ambing
kesempatanku hanya satu
hanya ketika pusaran-pusaran itu kembali tenang lalu hilang pada masanya
dan aku tenggelam disalah satu pusaran
Sayangnya... aku berharap pada pusaran yang salah
Salah dari semua pembenaran
Salah karena berteman hujatan
Salah karena membinasakan

Aku begitu runtuh
Melihat emas disamping besi
Memadang kemilau salah satunya
Berhasrat menyentuhnya

Aku begitu runtuh
Sambil bertarung dalam kuasa kemunafikan
Berkilah mencari kesempatan bagai pencuri

Aku runtuh disalah satu buaian kekhilafanku sendiri
Aku runtuh di dalam jaring buatanku
Aku runtuh tanpa pembenaran

Runtuhhh....





MEREKA YANG SEDERHANA



-->
Fida berpuisi 5 hari ke 5. Ditulis dilapangan Blang Padang, pukul 8 malam. Sambil nemanin hamdi menghafal surah pendek dan menunggu suami yang lagi di 'Dunia Refleksi'.
Berhubung suasananya cocok, ada jangkrik, ada suara kodok.. ada juga kunang2 terbang rendah... yang bikin sempurnya ada suara angin dan pohon. Maka jadilah puisi ini:

MEREKA YANG SEDERHANA
Aku melihatnya
Mendengarnya..
Merasakannya
Berbagai bentuk yang KAU kirimkan
yang terbang rendah namun seimbang
yang bersuara tipis tapi memekik
yang bergoyang diatas bayangannya
yang tak jatuh walau bertopang ringan
Mereka kuasa MU
Beratraksi dihadapanku, sekarang dan sampai nanti
Mereka yang lebih sederhana dibanding aku
Berfikir dan beraksi tanpa beban
Hanya menyolok disaat yang tepat
dan hidup didunia kejam yang dianggap ringan
Mereka yang terbantahkan keberadaannya
yang kadang diburu tanpa ampun
sampai terberai hilang ikatan mereka
Tapi tetap mereka berkelakuan ringan
Melupakan kekejaman kami
yang tak memberi mereka ruang udara yang cukup
yang puas dengan ke alpaan mereka
dan senang menggantikan mereka dengan suara-suara model baru
Suara-suara yang datang atas nama kebudayaan modern
dan metropolitan

Menanti

Telinga ini ditemani dentuman musik
Melanglang masuk bersama desir indahnya wahana hayalan
Menanti yang tak kunjung datang
Sambil berharap bantuan melalui sebuah mimpi
Menanti untuk menggantikanku saat ini
ketika saat ini yang harusnya aku tak mampu berada disini

Disana.. disudut mataku samar pintu itu masih tak tergerak
bunyi decit yang setia datang
bersama aroma tubuh beberapa orang..
melewati pintu yang sama...
Tapi tak satupun akan menggantikanku
duduk berdawai dengan alunan ini

Masih menunggu....

august 8, 2009
@ meja operator uffffff

Friday, December 3, 2010

Berbicara tentang Tuhan

Berbicara tentang Tuhan
Tentang cinta yang jernih
lekat .. kuat ..


Berbicara tentang Tuhan
dengan wujud  tak terlihat
Namun bergema tanpa batas

Aku bukan manusia jenis terbaik
tapi aku sadar makna Inqiyad
walau dalam berang
Bahkan bisikan  dengan rima menjilat
aku abaikan

Aku cinta mati, TUhan
Padamu Cinta sampai mati

Aku bergelora
bagai  perupuk yang haus akan hujan

Tapi aku masih musim yang berganti
terkadang perubahan menyebabkan sudut deklinasi
pada tubuhku..  fikiranku... juga pada reaksi

terkadang aku sedikit khilaf
merusak pigmen fikiran
sehingga cahaya apapun
tak merubah warnaku

Namun Kau selembut beledu
membuka imanku
untuk menyingkirkan dongeng Anunnaki


*Puisi ini di baca oleh anakku Hamdi dalam Launching Bukuku "Puisi diantara Hari'

Thursday, October 21, 2010

Bismillah




Bismillah
Kulapar, ENGKAU mengenyangkanku
sebelumnya terhidang selaksa Dzikir
dibalik gurat letih,
menghimpun ikatan kovalen antara aku dan ENGKAU

Atas namaMU
aku merunduk mengelupas kelemahanku
malu karena cinta terpenggal hanya sebait ayat
dan masih terseok diantara serat yang mengikat fikiranku

Padahal Engkau limpahkan gutasi disetiap jiwa yang ampun

AFRIDA ARFAH

********
(puisi di atas terdiri dari 50 kata termasuk judul dan nama penulis)

Wednesday, September 29, 2010

CERITA SAMPAH


Lihat!
didepanku ada bingkai tipu daya
dan pongah wajah tak teratur
juga senyum sinis aparatur

lihat!
mereka bercerita dengan bunyi kereta api
berbau kotoran tikus
dan lagak yang tak renta

bukan mereka hewan
tapi moral mengamini
bukan mereka sampah
tapi kami menutup hidung

ntah apa yang mereka perbincangkan
diskusi panjang nan kerdil
terisi ribuan huruf namun bermassa kosong

kami seperti tuna rungu
membaca gerak mulut yang tak putus
sedang mereka tak menodorkan kamus
atau berisyarat seperti kami

Tuesday, September 28, 2010

UTUH

Berikan aku selongsong peluru
untuk berjaga andai cintamu pergi
biarkan aku menembaknya sekali
agar hati itu perih seperti aku

Atau
Titipkan aku pada bumi
agar ia dapat berbisik tentang langkahmu
dan mengguncang ketika kau terbagi

Aku tak ingin separuh
atau bahkan sepertiga
Aku ingin  bulat tak terpotong
juga tak bersudut ketika aku menyusurimu

Tuesday, August 31, 2010

KU UKIR TUJUH BELASKU


Ini adalah hari besarku
Semua bertumpuk di angka ini
Baru semalam perilaku tersedak umur
Kini aku mengantonginya dengan genggaman yang erat

Mereka biasa merayakannya
dengan bingkai warna dan kedipan lampu
Beberapa berdansa seperti boneka
lalu tak ingat jelaga yang mengetuk esoknya

Sedang aku...
cukup menulis langkah
memaku tapak
dan memindai satu persatu dengan urut

Ini hari besarku
Tak ingin kulewatkan dengan wajah hedon
lalu menghabiskan malam dengan satu kisah
padahal malam berotasi dengan iringan surya

Masih 1000 kisah yang menanti tanggung jawabku
yang mengurai air mata
atau menghelat tawa

Masih 1000 metamorforsa yang akan muncul
dengan rupa seperti batu malihan
Tercipta karena suhu dan tekanan berkali lipat
lalu terbagi dan berubah bentuk

Hari ini, dengan umur yang menopangku
Aku siap dengan kebijaksanaan PENGGAGAS
yang memberi jalan dan takdir diujung sana

Hari ini, dengan umur yang menegurku
Aku mengukir tujuanku diatas bukit batu
dan menapaki satu persatu terjal diantara perjalananku

Maka, aku berterima kasih kepada PEMBERI UMUR
Karena NYA aku bertumbuh dengan dzikir diantara nafasku

Note: Puisi ini dimuat dalam tabloid BAITURRAHMAN

Saturday, August 21, 2010

MENGHENTIKANMU


Seandainya bisa kupatahkan langkahmu
Dan menepi di batas kesepianku
Aku pasti senang

Bilamana kau lupa merunut jejakmu
dan terlilit diantara vegetasi liar di perjalananmu
Aku merana

Kau itu Ruby yang terekam sebagai penawar kedisdayaanku
Dengan warna lembayung namun tegas menoreh rindu
Sungguh diluar kuasaku

Kau seperti susunan seroja diatas air kehidupanku
menyamarkan riak yang terurai diselahnya
Aku terlarut

Namun, langkahmu tak terbantah
walau aku berteriak memanggil
Bahkan sedu yang mengalir tak menolehkanmu
Dan aku sendiri 






Thursday, August 19, 2010

Simpul Cemburu


Aku mengerti maksudmu
Di balik bilik cinta yang tersimpul cemburu
Kau terdetak mengulum ragu yang terdampar di kepalamu
Mempertanyakan kesetiaanku dan roman cinta terdahulu
yang pernah aku janjikan sebagai artesis didalam hatimu

Jangan lagi cemburu lebih dari ini
Hanya akan merusak nilaiku
mengacaukan materi cinta yang kita tulis
Lalu lunturkan jejak kita yang seiring

Cintaku bukan atom
yang begitu kecil hingga tak terbagi
Ia luas dengan sifat yang sama
tak terbagi walau berpeluang

Aku dan kau adalah konsonan dan vokal
dengan rangkaian tak putus kata
Aku terbaca dengan massa mu disampingku
Menjadikanku indah bertabur kateliya

'to be continue sepertinya ^_^

Wednesday, August 4, 2010

Merah Putih Untukku


Aku tidak disana
persis ketika meriam dengan lantam membuat tanah ini hancur
Aku juga tak disana
Disaat darah menjadi biasa
Aku bahkan tak tahu
bagaimana rasanya melepas kekasih dan hilang diantara teriakan

Yang ku tahu
Aku berdiri tepat di sini
di tanah yang merasa luka dan pedih pejuang
di antara rumput basah
yang pernah menyerap energi setelah kematiannya
diantara gedung mewah
yang tanahnya pernah menyimpan tombak kemerdekaan

hanya terbayang
kesedihan anak yang ayahnya mengayuh diantara ritme meriam
juga istri yang menanti langkah kembali kekasih
lalu menyusuri jejak kepergiannya
Atau bunda yang berdoa untuk anak lelakinya yang berdarah
yang tak jua dikenal di abad ini

Kesenanganku ada setelah kesedihan mereka
Kenyamananku ada setelah keberanian mereka
Kekayaanku ada setelah ke-papa-an mereka
Kehidupanku ada setelah darah mereka kering
dan jasad terbujur diantara bambu-bambu runcing
dan kibar 'MERDEKA ATAU MATI'

Puisi ini di ikut sertakan dalam gelar puisi ACI Blogcamp Gelar Puisi Aku Cinta Indonesia

Tuesday, August 3, 2010

Ramadhan


Ini hari, belum kurasaan juga wujudnya
Ntah aku yang papa iman
atau cinta hanya lewat seteguk
Bodohnya aku

Begitu dekat bulan ini,  dahagapun menanti
sedang marah harus kulapisi salju
Namun tetap jiwa ku kabur
Sekali lagi 'Bodohnya aku'

Harusnya aku terpenjara malu
Karena meneguk habis pemberiannya
Lalu berfoya dengan digital
Dan tetap aku tak tau malu

Bagaimana mungkin aku rasakan kedatangannya
Sedang aku masih bertengger dalam teori
Takkan mampu aku menggemakan nama NYa
jika aku masih berkutat dalam sejuta lamunan

Ia semakin dekat
Harusnya kusambut ia dengan dendang raihan
Atau cerita padang pasir di suatu abad
Ah lalainya aku ..

691,200 detik menuju pembersihan diri
dan aku tak beranjak dari ke alpaanku
Padahal gema Barzakh tak undur menantiku
Diwaktu yang tak tertahan oleh kuasaku

Monday, August 2, 2010

CERITA TEMAN

Aku ingat dulu, teman
yang kita berbaur dalam balutan idealisme
yang kita tertidur setelah larut dalam debat
lalu kita mengigau bersuarakan cita-cita

Aku ingat dulu, teman
Beberapa kita bahkan lupa putaran waktu
terjebak huruf prinsipal, dan tulisan-tulisan keras
yang mengenyangkan arogansi kita

Tapi aku tetap ingat, teman
Bagaimana kalian membuatku mampu
ketika lepas kendali .. runtuh dalam lamun dan sedih
menyambung tali-tali semangat untukku

Bahkan, banyak kata yang menopangku
menjadikan tiang kredibilitasku
menelurkan wacana baru untuk aku kupas
dan ku urai sebagai sambungan pandanganku

Sekarang, teman ...
Kuhanya bermaya dengan kalian
Sesekali tegur mencairkan rindu
mengumpulkan kertas-kertas yang kita tulis bersama
Lalu aku lekatkan sebagai pondasi hatiku

Aku masih melamunkannya
merindukannya dan ingin memutarkannya kembali

Semesta Bekerja Sama


Shubuh ini
Angin terlihat gagah
dengan hebat memukul pohon
Sambil membuat sirine gaduh yang membuatku bergelut

Terang belum lagi datang
Bahkan lebih takut dari aku yang merunduk dibalik selimut
Ia hanya mengirimkan pasukan yang deras
dengan rintik yg tak lagi terhitung

Ahh.. Semesta bekerja sama
membangun pertahanan diluar sana
memberikan ultimatum agar kami tak keluar dari peraduan
Menunjukkan kepongahan mereka diatas kesombongan kami

Shubuh ini
Adzan membuat kami malu
yang merunduk dibalik selimut
Takut akan kecaman luar dan igauan angin

Cerita pagi mulai usai
Ketika waktu tak dapat diundur

Dan penghebat cahaya harus menahan takut
Sambil malu muncul dari persembunyiannya.

Pengertian Cinta

Suamiku, Aku pernah bersalah padamu
Untuk waktu yang diputar paksa oleh imajinasiku
Suamiku, Aku pernah membuatmu cemburu
Atas nafas liarku yang susah kau ikat
Suamiku, Aku pernah menggalaukanmu
demi keonaran yang kuciptakan sendiri

Tapi kau tak bergeming dari prinsip cintamu
Prinsip dengan 'aku' sebagai objek
Dan bukan kelakuanku atau kenakalan fikiranku
Hingga aku tak mampu membandingkanmu

Demi aku yang terbalut lumpur nafsu
kau hidangkan wedang air untuk menelusuri khayalanku
Kau rakit diatas kekhilafanmu
Dan bukan kebodohanku

Bagaimana aku mampu melipat keutuhanmu demi nikmat tak terbentuk
takkan kubiarkan kekagumanmu berubah auman benci
takkan kubiarkan pujianmu menjadi caci maki
Karena cinta kita tak tertepis draconids sekalipun

Terima kasih untuk pengertian cinta yang tak terhingga
Yang memberikan aku ruang dan nafas

Thursday, June 10, 2010

Untukmu Guru-guru ku TK sinar Mulia


Engkau dan sebongkah senyummu
Menggenggam jariku ketika pelupuk mataku basah
Menarikku lembut ketika ibu menghantarku untuk pertama kalinya
Dan ia menghilang sejenak

Saat itu..
Tak ada faham selain menangis
Dipangkuanmu aku menyerah
Bersama musikmu aku bangun
Dan aku mulai terngiang senyum saat kau bercerita

Bersamamu aku mengenal cinta orang-orang disekelilingku
Menggaruk pasir demi mencari mutiara
hingga sadar akan keberadaanmu
yang terus menggenggamkan mutiara itu ditanganku
agar kelak aku lebih berarti
dimata dunia dan TUHANKU

4 tahun ..
tak pernah cukup untukku
4 tahun ...
dengan kesabaranmu dan polah tingkahku
dan selama 4 tahun aku berproses

kini setelah tahun-tahun itu..
aku melangkah membawa bekal
Sebutir mutiara yang kau titipkan
dan tetap akan ku genggam ketika aku menjalani bagian-bagian masa depanku
Karena ada engkau didalamnya ... dan selalu ada engkau... guruku

TAk berujung rasa terima kasihku untukmu
Kata-kata yang kau tanamkan berpendar indah menggeluti nadiku
memberikan keberanian untuk kebenaran
menempelkan kelembutan dalam kata-kataku

Tanpa akhir aku masih berucap TERIMA KASIH guru

Tuesday, April 13, 2010

Aku dan pertanyaan

Aku pernah bertanya tentang ini
Tentang bagaimana debu yang menempel
pada intelektualitasku

Tentu aku pernah bertanya tentang ini
Tentang bagaimana keriput yang menyerang usiaku

Dan akupun pernah bertanya tentang ini
Tentang bagaimana kujunjung nama NYA

Namun aku tak pula bergerak

Pindah dari kata-kata menjadi aksi
Pindah dari ingatan menjadi Inqiyaad
memutasikan seluruh munafikku menjadi Sholat

Monday, April 5, 2010

Kilatan mediasi

Kau datang lalu lenyap
Seperti kilatan cahaya yang terbentuk dari bintang kembar
Atau lebih besar hingga mencapai Hipernova

Sangat pasti tak dapat kuhilangkan jejakmu
yang menempel ketika kau pertama kali datang
Menyeruput sedikit demi sedikit nafasku

menutupi jalan keluar
yang membebaskanku dari jeruji-jeruji yang pernah kau tanam
membuatku berpijak diatas lantai kaca


Kau lenyap tanpa bekas
Bayanganmu yang tak bermassa mengikuti kecepatan cahaya
kedatanganmu hanya sebagai mediasi
Seperti foton yang tak tergambar namun bermakna

Sudah berlalu..
Bagiku memang kau hanya Foton
Dan ntah apa kau sebut aku

Sayangnya aku kembali terjebak diluar pergerakanmu
Sekarang aku layaknya Anantakusuma yang mencintai Nyai Anteh
Namun bersanding dengan Endahwarni sang putri raja
Dan ini lebih baik daripada mencari kau yang lenyap

Wednesday, March 31, 2010

Hidup Diatas jari

Aku mengikutimu
Berganti rupa diantara huruf-huruf
Merekatkan jejak yang kau pilih untuk perenungan
Yang banyak kau ambil dariku
Sari pati terbaik dari lompatanmu

Terkadang kau mengulang dan mundur menghapus jejak
Merasa ada yang salah tapi tak terfikir
Sedikit kau terdiam.. tapi banyak menari
hanya menari namun tak berkembang

Kau tunggu aku tapi bukan karena kau setia
Dan kau semakin marah karena aku diam
Kau mulai mengayun bosan
menampar angin yang sedikit datang
meronta dengan mengetuk ujung pena
atau huruf yang mengambang diatas kepalaku

Aku hidup denganmu
Jangan kau paksa aku
Karena kita mencari uraian yang sama
Yang manis dan menghenyakkan
Mengulum kata-kata yang kuat
Dan membingkainya dengan sapuan rumput di sabana

Wednesday, March 24, 2010

Kopi dan Lamunan

Ditempat biasa berkumpul para pengelana
menenggelamkanku diantara gumpalan asap rokok dan transaksi
Lalu datang beberapa orang dengan lamunan
Mereka yang tak saling mengenal bahkan dengan lamunan mereka sendiri

Yang mereka tau bahwa mereka menikmati
Riuh ketika hujan tak malu untuk menegur
Lalu hawa merindukan hangat yang mengalir dari adukan sang barista
atau justru dari tangan sang ahli dari negeri ka'bah

Mereka yang membawa fikiran berbeda
Jauh didetik sebelumnya dengan galau dan sesak
Datang dengan tujuan yang sama
karisma sang kopi

Melonggarkan saraf yang merajuk
Membuka jahitan berjudul kreatifitas
yang lama terajut di titik jenuh
Melancarkan jariku merangkai huruf di meja ini

Monday, March 22, 2010

Anai-Anai Cinta


Bisakah kau mengatakan 'TIDAK' pada anai-anai cinta
Sedang kau bertahan
Dan ia terus melobangimu dengan gigitan tajam
Masuk dan merayap melalui saung yang kau tempati

Sudahkah kau tanam lolipop disekitar saung?
agar kau memandang indah diluar pijakanmu
lepas dari anai-anai
yang telah lama betah berbisik dan meracuni otakmu

Akankah kau berjalan keluar
melangkah dipijakan anak tangga yang papa
Lalu gemar merasakan gesekan rumput bermuda
Mencari satu lagi alasan bahwa kau pantas lepas

Lepas dari anai-anai
Lepas dari aral yang menutupi fikiranmu
Lalu kau menimang bahwa kau pantas lepas

Jangan hilang
Jangan kau hancur dengan kelelahanmu
Kau hanya menduduki satu saung

Kau lihat!!
Kau tak perlu saung untuk berteduh
Masih banyak setapak yang belum kau lewati
untuk kau cari harapan yang lenyap
Lalu mengganti hatimu yang dipenuhi krisan putih...
dengan ribuan pucuk lolipop yang akan kau tanam

Thursday, March 18, 2010

Palung Rindu

Puisi ini aku buat karena kerinduan yang amat dalam untuk suamiku... bayangkan sudah 4 hari tidak bertemu... wanita mana coba yang tahan berpisah selama itu... (Lebai banget kan.... hehehehe)

Dibawah tenda merah bundar
Menutupi rindu yang tumpah
Melindangi seluruh meja dan kursi
yang bertengger kaku menopang tubuhku

Aku dalam diamku
Tak dapat menghitung detik yang terbuang
Sedang aku kehilanganmu diujung mata

Beberapa teguran alam memberi dukungan
pada perasaan yang sedang sayu dan patah sayap
Lalu kehilangan beberapa langkah yang kau bawa
dan terdekap dibalik pakaianmu yang berpeluh

Sungguh.. sampaikah pesan ini
Padamu yang berkeringat mencari hara untuk tubuh kami
Yang kadang berjalan di pinggir palung
Demi setapak ukiran emas yang kau berikan dengan cinta
Atau segenggam kenikir  yang berfungsi ganda

Aku rindu..
Padamu aku rindu
Sedalam palung yang kau hinggapi
Seperti gulma yang mulai mengganggu gerak tidurku

Monday, March 15, 2010

Masuk Tanpa Salam


Maaf, ini menggangguku
Sedikit kusuka.. tapi berbahaya
Sedikit saja terpercik, semua hangus dalam sekejab
Aku tak mau itu
tapi aku tepat di buritan dan hampir terjungkal
lalu hanyut...

Saturday, March 13, 2010

Seperti Janji Sabana

Terkadang kita suka lupa dengan janji kepada orang yang kita sayangi. Kadang juga kita anggap itu tidak terlalu penting. Dengan mengiyakan saja, rasanya sudah beres. Sometimes, it's happened to me n' my hubby,too. And more times to remind it....


Ada yang hilang waktu kau datang
Walau tanganmu penuh menenteng keranjang
untuk kau simpan semua pesanan teman baikmu
Tapi kau khilaf mengosongkannya untukku

Sampai jenuh aku menguak
menumpahkan seluruh isi keranjang
Tapi tak satupun yang kuingat untuk kukenali ia milikku

Thursday, March 11, 2010

Wanita Canna

Puisi ini pesanan seorang sahabat, teman, adik, om bagiku, suamiku, dan kucaci2ku. Imam namanya... ingin dibuatkan sebuah puisi mengenai lelaki sukses karir dan menpunyai seorang wanita yang canti, lembut, baik....



Ia menenteng canna dalam tubuhnya
Keindahan yang tersalur murni memantapkan langkahnya
Untaian kelopak yang tersibak seiring hembusan angin
menjadikannya sempurna
Sempurna karena kelihaiannya berperan diri
Sempurna karena alur waktu yang memihak padanya

Monday, March 8, 2010

PEREMPUAN YANG SAMA

Suamiku cinta pertama, pacar pertama, suami pertama dan terakhir bagiku. luv me 4ever ya sayaaaaang

Aku perempuan yang sama
Yang terukir dalam hayalanmu
Yang suka memoles kekuranganku

Aku perempuan yang sama
Yang bahagia dengan pujianmu
dan mengubah luas adrenalinku

SESUATU

Ada semangat membuncah
Begitu datang tanpa perekenalan
Terinspirasi dari cerita lain yang berkerak dan terabaikan
Aku memungutnya
Ingin menjadikannya berharga
Ditatap dan diyakini keberadaannya

NGANTUK

Beberapa suara seperti lompatan nyamuk yang melangkahi telingaku
Berdesing ragu-ragu lalu hilang
Sebentar aku seperti berhayal.. lalu sadar dengan kebisingan tadi
Sedikit mendongak ternganga lalu kembali hilang ingatan
Melewati pintu lain dengan sekian banyak cerita yang membingungkan
Tak satupun yang aku pahami

Sunday, March 7, 2010

ADA BUMBU DIANTARA KITA

Katanya pernikahan layaknya makanan.. tanpa ada bumbu tambahan rasanya kurang mantap. Ada yang suka nambahin cuka, ada yg suka nambahin sambel, kecap, atau hanya sekedar garam. Bukan begituuu???

ADA BUMBU DIANTARA KITA

Jangan kira aspal mulus tak berkerikil
Bahkan kebal itu muncul ketika kita tergocang
Bagaimana kau sangka ketajamannya yang menggores kita
Sedang kita beralas kaki

Friday, March 5, 2010

PENIPU ULUNG

Kau buat angka-angka pemisah kau dan kami
Kau bangun benteng tripod untuk kami
Agar kami berpencar ketika ingin menghujam kesombonganmu
Begitu durjana..
Maju diatas kemiskinan kami
Menyusup dengan sempurna dikala kami jatuh
Tak ada lain, kami terperangkap

Ntah bagaimana.. kau buat kami semakin bodoh
Beberapa diantara kami bahkan bernafas dari paru-parumu
Menertawakan kebodohan saudara sementara ia terlihat bodoh

Thursday, March 4, 2010

HIDUP DALAM MATI

Puisi ke 9 dan 10 (dirapel krn kmrn stag cmn bisa jadi 1/2). Puisi ini dibuat malam ini dilapangan Blang padang, sambil nemenin hamdi ahza belajar, liat raja semut, nyari kunang-kunang, ketemu keluarga yg lagi piknik sambil bawa makanan.
juDul puisinya: "HIDUP DALAM MATI" dan "PEWARIS TUNGGAL"



Seperti menunggu ketukan palu
Tanpa ukiran pada bingkai
Jangan mendekat wahai romantisme pujangga
Hanya akan terbakar sebelum sampai
Bagaimana perjalanan dengan keringat yang tertetes disetiap jejak
Harus mampu terisap kembali masuk di setiap pori-pori

PEWARIS TUNGGAL

Puisi ke 9 dan 10 (dirapel krn kmrn stag cmn bisa jadi 1/2). Puisi ini dibuat malam ini dilapangan Blang padang, sambil nemenin hamdi ahza belajar, liat raja semut, nyari kunang-kunang, ketemu keluarga yg lagi piknik sambil bawa makanan.
juDul puisinya: "HIDUP DALAM MATI" dan "PEWARIS TUNGGAL"

Mereka berteriak mengelilingiku
memantapkan harapan mereka pada alam
bebas dengan saling memberi kesenangan
mereka belum mengerti kebohongan dalam senyuman
Dan harus berkorban setelah ini
Mendapati mereka sebagai pewaris tunggal tempat tinggal kotor
penuh cela dan koreng

Sunday, February 28, 2010

RUNTUH

Aku begitu runtuh

-->
Seperti duduk diantara pusaran air
Tidak satupun yang menggulungku masuk
hanya terpental, lalu kembali dan terpental ditempat yang berdekatan
Andai berdiri.. takkan sempurna pijakanku
hanya ada dua pilihan yang terombang ambing

PRASANGKA


Puisi ini aku buat malam sebelum tidur, tapi akhirnya kutertidur.  Jadilah hari ini baru bisa aku post nih puisi. Tadi malam sebenarnya sudah ada 1 buah puisi yang aku buat ketika menemani anakku main di lapangan Blang padang. Sayang nya puisi itu belum selesai.  JUstru ketika hampir tengah malam, aku mendapat ide mengenai sebuah prasangka. Bagaimana kita berprasangka, dan dimana posisi kita saat prasangka itu mulai meracuni seluruh fikiran kita.


PRASANGKA
Dikotak sempit ini aku hidup
Semua sisi sama dengan pandangan datar
Mengolokku seolah akulah terpidana
Berapa langkahpun aku maju..
hanya benturan yang terus mencercaku

Saturday, February 27, 2010

MEREKA YANG SEDERHANA


Fida berpuisi 5 hari ke 5 (sesuai niatku yang ingin bikin puisi dalam 365 hari sebanyak 365 puisi). Ditulis dilapangan Blang Padang, pukul 8 malam. Sambil nemanin hamdi menghafal surah pendek dan menunggu suami yang lagi di 'Dunia Refleksi'.
Berhubung suasananya cocok, ada jangkrik, ada suara kodok.. ada juga kunang2 terbang rendah... yang bikin sempurnya ada suara angin dan pohon. Maka jadilah puisi ini:

MEREKA YANG SEDERHANA
Aku melihatnya
Mendengarnya..
Merasakannya
Berbagai bentuk yang KAU kirimkan
yang terbang rendah namun seimbang
yang bersuara tipis tapi memekik
yang bergoyang diatas bayangannya
yang tak jatuh walau bertopang ringan

Friday, February 26, 2010

Hampir pecah


Hampir pecah..
Akan seperti kepingan kaca yang tajam
Kubersihkan tapi tetap tertinggal
Dan yang tertinggal pasti hanya puing kecil tak kasat mata
sebaris kenangan mungil dan selebihnya terbuang
Hampir pecah ...
Akibat penjunjung ego, sifat antah barantah
yang datang dengan sekelumit idealisme baru
Namun salah karna tak bertuan
Dan salah karna dicerca dibalik emosi
Hampir pecah...
Sekumpulan warna-warna yang muncul
Dan tidak sebentar berproses
Melerai diri melonggarkan ikatan yang hampir kencang namun tak kuat

Tuesday, February 23, 2010

KeiNGinanKu


Bagaimana mungkin kukatakan ini nyata
Hanya terlukis bekas kelalaian walau samar
Aku sang penilai dengan segala kekecewaanku
memetakan kepintaranmu
Berharap lebih dari hanya sekedar duduk di kursi goyang
nyaman menanti hasutan angin yang terkadang muncul

Kecil keinginanku...
namun aku bukanlah arjumand yang meminta pada syah jahan
Tak perlu kau rajut emas dari benang
atau berjinjit diatas bara..

Monday, February 22, 2010

Mutiara Berdebu


Dimana kau letakkan mutiara itu
mutiara yang terlihat ketika kau dengan santun mengajakku

Ia disalah satu kepiawaianmu,
berteriak menyebutnya bagian dari keindahanmu
Aku tak elak berhenti memaku
dengan mantap menyambut kau dalam genggamannya

Cintaku setiap Hari

 



Cintaku setiap Hari 

Tanpa menoleh aku tau dari mana riwayat cinta ini datang
Disapa oleh hasrat yang tersebar diseluruh sel fikiranku
Layaknya mariyuana yang menyatu dan tanpa ampun menenggelamkanku
Aku.. benar tanpa ragu ketagihan akan cinta 
Sadarkah kau..
Kau menarikku, menahanku dengan ke elokanmu
untuk sekian detik tanpa nafas dan aku begitu lena
Cintaku setiap hari mengikuti waktu tanpa batas
Cinta yang mengaduk pundi yang tertanam dalam hayalanku
Sehingga aku begitu tinggi.. dan jauh mendekati ujung andromeda
lalu berlari kembali menghantam permukaan cinta yang kau bentuk
dan aku tak lagi bisa melepaskan diri.


Puisi ini diikutkan dalam lomba


Monday, September 14, 2009

When Parts of my Body ask the same question

My blood said: Hi Fida, Do you know me??
Then fida answered: No doubt, u are part of my body.
My Brain asked me: fida, do you think that u are really know me?.
Fida answered again: sure, u are the main thing for shaping me as now.
Then, All of my organ asked the same question, But they said that I HAD A BAD ANSWERED.
They said again: "we are parts of your responsibility to Allah, so Bring us back to Allah as clear as Allah put us in your body at the first time. then, we will guide you to heaven

Ketika Aku berada di lingkaran itu (AMARAH)



Aku terlupa...

Seberapa panjang kutebang pohon yang berdiri kokoh itu
Seberapa dalam tanah yang kugali
Seberapa banyak air yang kuraup

Ketika aku sadar.. aku tak lagi mampu mengembalikannya
Bahkan untuk memutar haluan seperti bara yang kupijak..
Aku teraniaya dengan kesombongan di batas mata hatiku
Buta, dengan menyanjung keegoisanku

Teruntuk hamdi dan Ahza

Teruntuk hamdi dan Ahza
Ini... jika aku melihat hilang gerah sehariku
Ini... Yang aku dengar pudar peluh fisikku
Ini... dengan aku merasa, tak ada lain yang lebih
Ini... Bahkan dengan ini
Hilang seluruh APA
Aku tak berani memohon untuk lebih dari ini
Karna INI dan dengan INI cukup bagiku


Untuk penitipan mereka padaku....Terima kasih Ya Allah

Tuhanku



Tuhanku...

Ada yang salah denganku.. aku tau itu..
Setiap langkahku ada Engkau di fikirku
Tapi mengapa Tuhanku....
Ketika malam aku begitu hidup
Percaya diri akan cintaku padaMU
Tapii...
Aku seperti Ratkirani yang kuncup dikala matahari menyapaku
Begitu lemah.. dan malu dihadapanMu....

Bukan ini yang kumau wahai Penunjuk Jalan
Berikan aku lebih banyak Gandharaj membaur dalam tubuhku
Agar aku mampu mengharumkan setiap sudut hatiku
Dan tak takut akan matahari yang menantangku

to be continue

Menanti



Telinga ini ditemani dentuman musik

Melanglang masuk bersama desir indahnya wahana hayalan
Menanti yang tak kunjung datang
Sambil berharap bantuan melalui sebuah mimpi
Menanti untuk menggantikanku saat ini
ketika saat ini yang harusnya aku tak mampu berada disini

SELAMI AKU

Selami aku

August 14, 2008

Aku bukanlah orang yang sama yang kau fikirkan
Aku bukanlah orang yang sama yang berbaring diranjang emas orang lain
tidak demikian
dan tidak untuk itu

Hanya saja aku lemah
Dan cara berfikir yang salah
NAmun tak sampai ku pecahkan pundiku
Dan tak sampai mengacak ruang hidupku

Do'a Seorang Istri


YA Allah.. Maha pemberi ampun
Izinkanlah kami menerima uraian ampunanmu ya Allah...
karena kami sadar terlalu banyak dosa yang kami anggap benar

Ya Allah Maha penerima amal...
Luruskanlah amal kami, karena terlalu banyak azmal kami yang dilingkari riya ya Allah..
Kami sadar akan debu yang mengiringi nafas kami
Kami sadar akan kesombongan atas nama kebaikan kami
Kami sadar akan lidah yang tak bertulang
yang masih tak mampu membatasi obrolan kami
Maka ampunkanlah ya Allah ....

Allaumma Ya Allah...
Kami adalah akar bagi suami kami.. maka berilah kami tanah yang gembur Ya Allah
agar kami kuat menahan beban suami kami, mengalirkan kesuburan kedalam hati dan perasaan suami kami....
Menyamankan pijakan dan langkah suami dalam bekerja

Sunday, September 13, 2009

Sebuah Sandaran


Sebuah Sandaran
Tuesday, May 12, 2009 at 10:26pm
Di putaran ini ketika batu itu muncul
Begitu kecil... tak sampai melukai..
Tapi ia perlu sebab atas sebuah jawaban...
karena udara butuh sirkulasi
dan mereka tetap harus berputar
menyingkirkan sandungan kecil itu

Tuesday, May 12, 2009

MALAM

Inilah suara setelah keributan ... kesibukan tiada akhir...
Ia adalah suara tanpa nada... yang senyap...
Menyadarkan semua akan batas...
Memberikan ruang pada letih...
memejamkan semua cita-cita dan ambisi...